Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Budiman Sebut Rocky Gerung di Wantimpres Jadi Kompas Moral Prabowo

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | rayacom.id

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI Budiman Sudjatmiko menilai Rocky Gerung dapat memberi perspektif kritis dan filosofis kepada Presiden Prabowo Subianto setelah bergabung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Menurut Budiman, Presiden tidak cukup menerima masukan teknis dan taktis. Pemerintah juga membutuhkan perspektif yang dapat menguji arah kebijakan, asumsi, serta dampak jangka panjang setiap keputusan.

“Kalau Presiden hanya dikelilingi saran taktis, keputusannya akan efisien tapi bisa kehilangan koherensi strategis. Dengan masukan yang filosofis dan kritis, keputusannya bisa lebih strategis dan komprehensif,” ujar Budiman, Minggu (4/10/2026).

Budiman Nilai Rocky Bisa Beri Perspektif Kritis

Budiman menilai pemikir dengan latar belakang filosofis dapat memainkan peran penting dalam lingkungan kekuasaan. Menurut dia, pemerintah dapat menghadapi persoalan ketika para pengambil keputusan melihat masalah dari kerangka berpikir yang sama.

Karena itu, Budiman menilai penasihat Presiden perlu berani menguji asumsi dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Selain itu, perspektif kritis dapat membantu pemerintah melihat dampak kebijakan secara lebih luas. Pendekatan tersebut juga dapat melengkapi pertimbangan teknis yang pemerintah gunakan dalam mengambil keputusan.

Rocky sendiri menyatakan akan tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah setelah bergabung dengan Wantimpres. Ia menilai lembaga tersebut memiliki ruang untuk memberikan pertimbangan dan kritik terhadap kebijakan Presiden.

Budiman Soroti Arah Kepemimpinan Prabowo

Budiman juga menilai Prabowo mengedepankan substansi dan nilai konstitusional dalam menjalankan pemerintahan.

Ia menyebut Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 33 sebagai bagian dari kerangka penting dalam melihat arah pemerintahan.

Menurut Budiman, seorang kepala negara membutuhkan masukan tentang langkah yang harus diambil sekaligus arah jangka panjang yang ingin dicapai.

Dengan demikian, masukan kepada Presiden tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini. Masukan tersebut juga perlu membantu Presiden melihat tujuan dan konsekuensi setiap kebijakan.

“Saran taktis menjawab ‘apa langkah berikutnya’. Saran substantif menjawab ‘ke mana arahnya dan apa konsekuensi jangka panjangnya’,” kata Budiman.

Filsafat dan Teknokrasi Saling Melengkapi

Budiman menilai pemikiran filosofis tidak perlu menggantikan pendekatan teknokratis. Sebaliknya, kedua pendekatan itu dapat berjalan berdampingan dalam proses pengambilan kebijakan.

Teknokrasi membantu pemerintah mengolah data, menyiapkan instrumen, dan merancang mekanisme pelaksanaan. Sementara itu, pendekatan filosofis membantu menguji asumsi, nilai, serta arah kebijakan.

Karena itu, Budiman memandang kehadiran pemikir kritis di lingkungan Presiden dapat memperkaya proses pemberian pertimbangan.

“Bahkan filosof sendiri harus jadi pemimpin atau setidaknya pemimpin harus punya kapasitas sebagai filosof. Pak Prabowo sedang mengerjakan salah satunya,” pungkas Budiman.

Sebelumnya, Budiman juga mengutip pemikiran mantan Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln mengenai hubungan antara filsafat, pendidikan, dan pemerintahan.

Rocky Gerung Bergabung dengan Wantimpres

Rocky Gerung resmi bergabung sebagai anggota Wantimpres setelah Presiden Prabowo melantiknya pada Jumat (2/10/2026).

Rocky kemudian menyatakan tetap akan mempertahankan sikap kritisnya dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Sementara itu, Budiman melihat kehadiran Rocky sebagai salah satu cara untuk menghadirkan perspektif berbeda di lingkungan pengambilan keputusan.

Menurut Budiman, ruang pertimbangan Presiden tidak hanya membutuhkan laporan mengenai efisiensi program. Pemerintah juga perlu menguji arah, nilai, dan konsekuensi kebijakan bagi masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, Budiman berharap perspektif teknokratis dan filosofis dapat saling melengkapi dalam mendukung proses pengambilan keputusan Presiden. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *