Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Karhutla Jadi Bahasan, Prabowo Gelar Pertemuan dengan Pakar Gambut di Istana

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | rayacom.id

Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan bersama sejumlah akademisi dan pakar di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026). Pertemuan itu membahas pengelolaan ekosistem gambut serta strategi pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan Prabowo menerima berbagai masukan dari akademisi sejumlah perguruan tinggi dan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Ya, tadi dibahas banyak hal ya sebenarnya. Tapi sebenarnya tadi intinya kita mendengarkan masukan-masukan dari para pakar dari berbagai universitas, kemudian ada juga dari BRIN,” ujar Faisal seusai pertemuan.

Tiga Fokus Pembahasan Karhutla

Faisal menjelaskan, pertemuan tersebut membahas tiga aspek utama. Pertama, strategi penanganan saat kebakaran terjadi.

Kedua, pemerintah membahas cara memanfaatkan sekaligus menjaga ekosistem gambut. Ketiga, para peserta mendiskusikan jenis tanaman dan varietas yang sesuai untuk kawasan gambut.

“Yang pertama itu untuk kalau sudah terbakar apa yang harus kita lakukan, bagaimana penanganan yang paling optimal. Kemudian yang kedua, bagaimana cara memanfaatkan dan juga menjaga ekosistem gambut. Dan juga yang ketiga, terakhir, dengan budidaya apa, tanaman-tanaman, varietas apa yang cocok untuk daerah gambut,” jelas Faisal.

Satgas Darat Diperkuat

Selain strategi jangka panjang, pertemuan juga membahas langkah penanganan karhutla di lapangan. Pemerintah akan memperkuat peran Satuan Tugas (Satgas) Darat untuk merespons kebakaran secara langsung.

Menurut Faisal, sejumlah teknik pemadaman turut dibahas. Salah satunya pengeboran dangkal untuk mendapatkan sumber air di sekitar lokasi kebakaran.

Air tersebut kemudian dapat dipompa menggunakan pompa portabel untuk mendukung pemadaman.

“Kalau sekarang memang yang kita perkuat nanti adalah Satgas Darat yang bisa langsung menangani kebakaran hutan dan lahan di daerah yang terbakar,” katanya.

Faisal menyebut teknik pengeboran dangkal dapat membantu pemadaman dengan jangkauan sekitar 200 meter dari titik pengeboran.

Masyarakat Peduli Api Ikut Diperkuat

Pemerintah juga membahas peran masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut. Kelompok masyarakat peduli api dinilai dapat membantu melakukan pemadaman sekaligus mencegah kebakaran.

Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian dari strategi penanganan karhutla di tingkat lapangan.

Selain pemadaman, upaya pencegahan juga menjadi perhatian. Salah satunya dengan menjaga kelembapan lahan gambut agar tidak mudah terbakar.

Tinggi Muka Air Gambut Dijaga

Faisal mengatakan permukaan air gambut perlu dijaga agar tidak turun terlalu dalam. Dalam diskusi tersebut, muncul acuan agar permukaan air tidak turun lebih dari 40 sentimeter dari permukaan tanah.

“Intinya nanti adalah kita coba menjaga permukaan air gambut. Tadi disebutkan tidak boleh turun lebih dari 40 cm dari permukaan tanahnya,” ujar Faisal.

Menurut dia, kondisi gambut yang lebih basah dapat mengurangi risiko lahan mudah terbakar.

Upaya itu juga membutuhkan perlindungan terhadap ekosistem dan reservoir air yang berada di bawah kawasan gambut.

Operasi Modifikasi Cuaca Tetap Disiapkan

Selain pengelolaan gambut dan pemadaman langsung, pemerintah juga tetap mempertimbangkan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Faisal mengatakan OMC dapat dilakukan ketika terdapat kondisi awan yang memungkinkan pelaksanaan operasi tersebut.

“Salah satunya caranya yaitu dengan menjaga ekosistem gambut dengan reservoir-reservoir air yang ada di bawahnya dan juga, jika memungkinkan, ada awan hujan, kita juga bisa melakukan operasi modifikasi cuaca,” pungkas Faisal. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *