SRI LANKA | RAYACOM
Komisi Penyelidikan Tuduhan Suap atau Korupsi Sri Lanka (CIABOC) menangkap Namal Rajapaksa, putra mantan Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa. CIABOC menangkap politikus oposisi itu dalam penyelidikan dugaan suap pengadaan pesawat Airbus untuk SriLankan Airlines.
Namal menjalani pemeriksaan selama sekitar lima jam pada Jumat (4/9/2026). Setelah pemeriksaan, penyidik CIABOC membawanya ke pengadilan.
Colombo Chief Magistrate Asanga S. Bodaragama kemudian memerintahkan Namal menjalani penahanan hingga 18 September 2026.
Namal Rajapaksa Terseret Dugaan Suap Airbus
Perkara ini berkaitan dengan transaksi pengadaan pesawat untuk SriLankan Airlines pada 2013. Saat itu, Mahinda Rajapaksa masih menjabat sebagai Presiden Sri Lanka.
CIABOC menduga transaksi tersebut melibatkan aliran dana suap. Dalam persidangan, jaksa menyebut penyidik menemukan dugaan pembayaran sekitar US$800 ribu atau sekitar 100 juta rupee Sri Lanka kepada Namal.
Menurut jaksa, dana tersebut masuk melalui rekening di Singapura. Penyidik kemudian menelusuri aliran dana hingga ke Namal.
CIABOC menggunakan beberapa sumber dalam penyelidikan. Sumber tersebut mencakup keterangan seorang pengusaha Sri Lanka, informasi dari pejabat Airbus di Prancis, serta dokumen dan bukti elektronik.
Aliran Dana Diduga Lewat Singapura
Dalam persidangan, jaksa menyebut seorang pengusaha memberikan keterangan tertulis kepada penyidik.
Pengusaha tersebut mengaku menerima US$800 ribu melalui perusahaannya. Setelah itu, ia mengaku menukar dana tersebut ke mata uang rupee Sri Lanka dan menyerahkannya kepada Namal.
Jaksa menyebut dana awal masuk ke rekening BIZ Solutions Inc. di Standard Chartered Bank Singapura. Selanjutnya, sekitar US$800 ribu berpindah ke rekening Sabre Vision Holdings Ltd. di OCBC Bank Singapura.
Namun, pihak Namal membantah tuduhan tersebut. Kuasa hukumnya juga mempertanyakan kredibilitas pengusaha yang memberikan keterangan tersebut.
Pengacara Namal menilai penyidik terlalu bergantung pada keterangan saksi tersebut. Mereka juga mempertanyakan bukti lain yang menghubungkan Namal dengan dugaan pembayaran.
Pengadilan Tolak Permohonan Jaminan
Tim hukum Namal meminta pengadilan memberikan jaminan. Namun, hakim menolak permohonan tersebut.
Hakim menilai kuasa hukum harus menguji kredibilitas saksi melalui proses persidangan. Karena itu, hakim tidak menganggap keberatan terhadap saksi sebagai alasan yang cukup untuk memberikan jaminan pada tahap ini.
Dengan keputusan tersebut, Namal tetap menjalani penahanan hingga 18 September 2026.
Sejumlah Negara Bantu Penyelidikan
Penyelidikan perkara Airbus juga melibatkan otoritas dari sejumlah negara.
Jaksa menyebut otoritas Australia, Singapura, Prancis, dan Amerika Serikat ikut membantu penyelidikan. Selain itu, sejumlah pejabat Airbus telah memberikan keterangan kepada CIABOC.
Penyidik juga terus memeriksa dokumen serta bukti elektronik yang berkaitan dengan transaksi pengadaan pesawat tersebut.
Sementara itu, Mahinda Rajapaksa juga telah menjalani pemeriksaan CIABOC dalam perkara yang sama. Pemeriksaan terhadap mantan presiden tersebut menambah tekanan hukum terhadap keluarga Rajapaksa.
Kasus Airbus Jadi Ujian bagi Keluarga Rajapaksa
Penangkapan Namal menambah persoalan hukum yang menghadapi keluarga Rajapaksa. Keluarga tersebut sebelumnya memiliki pengaruh besar dalam politik Sri Lanka.
Namal sendiri merupakan anggota parlemen sekaligus tokoh Sri Lanka Podujana Peramuna (SLPP).
Pihak pendukung Rajapaksa menilai proses hukum terhadap keluarga mereka mengandung muatan politik. Namun, pemerintah dan aparat penegak hukum tetap menjalankan penyelidikan berdasarkan bukti yang mereka kumpulkan.
Untuk saat ini, penyidik masih mengembangkan perkara dugaan suap dalam transaksi Airbus. Sementara itu, Namal tetap menjalani penahanan sampai 18 September sambil menunggu proses hukum berikutnya.(hmi)