Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Pemprov Banten Perkuat Dukungan terhadap Kelestarian Lingkungan Adat Baduy

Bagikan: Facebook X WhatsApp

LEBAK | rayacom.id

Gubernur Banten Andra Soni menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Banten untuk menjaga kelestarian lingkungan dan melindungi masyarakat adat Baduy. Menurutnya, masyarakat Baduy telah lama menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Andra Soni menyampaikan hal tersebut saat menyerahkan bibit untuk Gerakan Menanam 70 Ribu Bibit Tanaman dalam rangka memperingati HUT ke-8 Perkumpulan Urang Banten (PUB). Kegiatan berlangsung di Rumah Kajaroan Kanekes, Ciboleger, Kabupaten Lebak, Minggu (25/10/2026).

“Selamat milad ke-8 kepada Perkumpulan Urang Banten. Terima kasih kepada Perkumpulan Urang Banten atas prakarsa Gerakan Baduy Lestari, serta kepada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung dan seluruh pihak yang telah mendukung penyediaan dan penyaluran bibit tanaman,” ucapnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut memiliki makna khusus karena berlangsung pada bulan peringatan Hari Jadi ke-26 Provinsi Banten.

“Momentum ini terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan peringatan Hari Jadi ke-26 Provinsi Banten. Semoga Perkumpulan Urang Banten terus menjadi wadah pengabdian bagi kemajuan Banten,” tambah Andra Soni.

Pemprov Banten Dukung Pelestarian Lingkungan Baduy

Andra Soni menjelaskan, Pemprov Banten akan melanjutkan dukungan terhadap pelestarian lingkungan dan perlindungan masyarakat adat Baduy. Pemerintah menjalankan komitmen tersebut melalui rehabilitasi hutan dan lahan, penguatan pengawasan lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat yang selaras dengan adat dan kearifan lokal.

Menurutnya, aturan adat Baduy mengandung nilai penting dalam menjaga alam. Salah satunya tercermin dalam pikukuh atau aturan adat yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan.

“Masyarakat Baduy telah lama menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Pikukuh atau aturan adat Baduy mengajarkan, ‘Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak’, gunung tidak boleh dihancurkan dan lembah tidak boleh dirusak. Ada pula pesan, ‘Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung’, yang panjang tidak boleh dipotong, yang pendek tidak boleh disambung,” ungkap Andra Soni.

Ia menilai nilai-nilai tersebut mengajarkan masyarakat untuk menghormati alam dan menghindari eksploitasi berlebihan. Selain itu, kearifan lokal Baduy mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan demi generasi mendatang.

“Nilai-nilai ini mengajarkan kepada kita untuk menerima dan menjaga alam sebagaimana adanya, tidak mengambil secara berlebihan, dan selalu memikirkan generasi yang akan datang,” tambahnya.

Gerakan Tanam 70 Ribu Bibit di 68 Kampung

Andra Soni menyebut Gerakan Menanam 70.000 bibit tanaman di huma masyarakat adat Baduy sebagai langkah nyata untuk menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi warga.

Panitia telah menyalurkan bibit ke 68 kampung, yang terdiri atas tiga kampung Baduy Dalam dan 65 kampung Baduy Luar.

Jenis tanaman yang dipilih meliputi gaharu, manglid, durian, albasia, rambutan, dan aren. Tanaman tersebut diharapkan dapat menjaga tutupan lahan dan sumber mata air. Di sisi lain, hasilnya juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Kami mendorong agar hasil tanaman dari gerakan ini dapat dikelola dengan baik, sehingga dalam beberapa tahun ke depan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Baduy,” kata Andra Soni.

Ia juga mengajak seluruh pihak menjaga keberlanjutan program tersebut melalui tiga langkah. Pertama, warga dan pihak terkait harus merawat bibit hingga tumbuh besar. Kedua, setiap kegiatan di wilayah adat wajib menghormati aturan adat Baduy. Ketiga, masyarakat perlu memperluas gerakan menanam ke wilayah lain di Banten, terutama daerah hulu dan kawasan rawan bencana.

“Menanam hanyalah awal dari pekerjaan,” menjadi salah satu pesan penting dalam ajakan Andra Soni untuk memastikan bibit yang telah ditanam tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang.

Andra Soni Apresiasi Peran Masyarakat Adat Baduy

Andra Soni juga menyoroti peran masyarakat adat Baduy dalam menjaga hutan, sumber air, dan keseimbangan lingkungan. Menurutnya, manfaat pelestarian tersebut tidak hanya dirasakan warga Baduy, tetapi juga masyarakat di wilayah sekitarnya hingga daerah hilir.

Ia turut menyinggung pengakuan dan perlindungan hak ulayat masyarakat Baduy sebagai bagian dari upaya menjaga keberadaan masyarakat adat.

“Kepada para tokoh adat dan masyarakat Baduy, terima kasih atas keteladanan dalam menjaga alam selama ratusan tahun. Hal tersebut merupakan warisan berharga, bukan hanya bagi masyarakat Banten, tetapi juga bagi Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Urang Banten, Komjen Pol. (Purn.) Taufiqurrahman Ruki, menyampaikan bahwa masyarakat Baduy pada 2026 mencapai sekitar 16 ribu jiwa dan menempati 68 kampung.

Ruki juga memaparkan kondisi lahan garapan masyarakat Baduy dan pola tanam yang mereka jalankan.

“Lahan garapan mencapai 599 ribu hektar. Tanam setahun sekali,” ungkapnya.

Ia mendorong pemerintah memperhatikan kebutuhan lahan garapan bagi masyarakat Baduy dan warga di sekitarnya. Menurutnya, akses terhadap lahan garapan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan.

“Termasuk masyarakat sekitar sini. Kalau mereka memiliki hak garap, Insya Allah bisa memiliki sumber pangan,” ucapnya.

Ruki menambahkan, panitia telah menyerahkan 40 ribu bibit dari total target 70 ribu bibit tanaman. Penyaluran berlangsung melalui delapan pintu masuk kawasan Baduy. Adapun waktu penanaman mengikuti perhitungan berdasarkan kearifan lokal masyarakat setempat.

“Melalui delapan pintu masuk Baduy. Waktu penanaman sesuai dengan penghitungan kearifan lokal,” pungkasnya.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *