Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Willy Aditya Dorong Literasi Jadi Variabel Remisi Warga Binaan

Bagikan: Facebook X WhatsApp

BANDUNG | rayacom.id

Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mendorong kemampuan membaca dan menulis masuk dalam variabel pengurangan masa tahanan atau remisi bagi warga binaan.

Willy menyampaikan gagasan itu saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/9/2026).

Menurut Willy, literasi dapat membuka ruang pembinaan yang lebih produktif. Karena itu, ia ingin aktivitas membaca dan menulis menjadi bagian penting dalam proses reintegrasi warga binaan.

“Saya sudah sampaikan di dalam rapat kerja bersama menteri bahwasannya pengurang masa tahanan itu salah satu variabelnya adalah sebanyak apa orang sudah membaca dan menamatkan buku, yang kedua sejauh apa orang bisa menulis,” kata politikus Fraksi Partai NasDem tersebut.

Willy Ingin Pembinaan Tak Sekadar Soal Kepatuhan

Willy menilai sistem pemasyarakatan tidak cukup hanya mengukur kepatuhan warga binaan terhadap aturan. Menurutnya, lapas juga perlu memberi kesempatan kepada warga binaan untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya.

“Sebuah regulasi harus dibikinkan ruang konversi. Apa ruang konversinya? Yaitu ruang membaca dan menulis. Kita kembali ke hal yang paling basic,” ujarnya.

Selain itu, Willy melihat literasi dapat menjadi jembatan antara aturan pemasyarakatan dan proses pembinaan. Warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri.

Singgung Karya Tokoh dari Dalam Penjara

Willy kemudian mencontohkan sejumlah tokoh yang tetap menghasilkan karya ketika menjalani masa tahanan.

“Kalau mau melihat sejarah, karya-karya besar yang ditulis oleh orang-orang besar itu rata-rata dari dalam penjara. Kita lihat bagaimana Nelson menulis dari dalam penjara, kita melihat bagaimana Tan Malaka menulis, Bung Karno menulis, Antonio Gramsci menulis, bahkan secara spesifik Antonio Gramsci menulis tentang penjara,” katanya.

Ia juga menyebut Buya Hamka yang menyelesaikan karya tafsir Al-Qur’an saat menjalani masa tahanan.

Menurut Willy, berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa lingkungan pemasyarakatan tetap dapat memberi ruang bagi produktivitas, refleksi, dan pengembangan pemikiran.

Siapkan Tim Asistensi ke Lapas Bandung

Willy mengatakan pihaknya telah mulai menerapkan gagasan penguatan literasi di sejumlah lapas, termasuk Lapas Cipinang.

Selanjutnya, ia berencana mengirim tim asistensi ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung. Tim tersebut akan membantu warga binaan mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.

“Saya tidak hanya berhenti di sini, habis ini saya akan kirim tim asistensi yang akan mengajari teman-teman bagaimana membaca, bagaimana menulis,” tuturnya.

Dorong Indikator Pembinaan Lebih Beragam

Willy menilai sistem pembinaan saat ini masih terlalu fokus pada satu indikator, yaitu ketaatan terhadap aturan.

“Variabel kita selama ini kan variabel tunggal, itu ketaatan kepada aturan, kita tidak lihat variabel yang lain bahwasannya, kalau lapas benar-benar menjadi ruang reintegrasi dari memanusiakan manusia, harusnya kita berpikir pada titik yang produktif,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong kemampuan menghasilkan karya menjadi salah satu indikator dalam melihat perkembangan warga binaan.

Menurut Willy, kegiatan menulis juga dapat membantu warga binaan merefleksikan pengalaman dan interaksi selama berada di dalam lapas.

“Ketika dia menulis realitasnya, kita bayangkan bagaimana seorang warga binaan bisa menulis cerita tentang temannya di dalam sel. Seorang warga binaan bisa menulis tentang bagaimana petugas lapas, itu interaksi yang sangat manusiawi sekali,” pungkas Willy.(fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *