Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Luncurkan Dua Buku Terbaru, Bamsoet Rekam Perjalanan Politik hingga Akademik

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | RAYACOM

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) meluncurkan dua buku terbaru di Parle Senayan Park, Jakarta, Kamis (10/9/2026) malam.

Dua buku tersebut merekam perjalanan Bamsoet di dunia politik, parlemen, hukum, ketatanegaraan, hingga pendidikan. Salah satunya menjadi buku ke-38 yang ia tulis.

Buku pertama berjudul “Politik Hukum Konstitusi: Menjembatani Teori Akademis dan Realitas Parlemen” karya Bamsoet. Buku kedua berjudul “Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran” karya jurnalis senior Kompas J. Osdar.

Kedua buku tersebut menawarkan sudut pandang berbeda. Bamsoet menggunakan pengalaman sebagai legislator dan akademisi untuk membahas hubungan hukum, politik, serta konstitusi. Sementara itu, J. Osdar merekam perjalanan Bamsoet dari dunia jurnalistik hingga pendidikan.

Bamsoet Hubungkan Teori dengan Realitas Parlemen

Bamsoet mengatakan penulisan buku tidak sekadar menjadi catatan perjalanan pribadi. Menurutnya, buku dapat menjadi sarana untuk mendokumentasikan gagasan dan membuka ruang diskusi.

“Menulis buku bagi saya bukan sekadar catatan perjalanan pribadi. Buku menjadi cara untuk mendokumentasikan gagasan, membuka ruang perdebatan, dan mewariskan pengalaman kepada generasi berikutnya,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Melalui buku Politik Hukum Konstitusi, Bamsoet membahas sejumlah persoalan strategis dalam ketatanegaraan Indonesia. Pembahasannya mencakup rekonstruksi tata negara, haluan bangsa, pembentukan undang-undang, serta hubungan pemerintah dengan DPR.

Selain itu, ia mengangkat isu etika politik dan hukum, kedaulatan digital, hingga kepemimpinan strategis Indonesia dalam percaturan internasional.

Bamsoet menilai perubahan teknologi dan ekonomi digital membuat tantangan ketatanegaraan semakin kompleks. Kejahatan berbasis kecerdasan buatan, dinamika geopolitik, serta perubahan hubungan negara dan masyarakat juga menuntut hukum beradaptasi.

“Politik tanpa landasan hukum yang jelas berisiko melahirkan kesewenang-wenangan. Sebaliknya, ilmu hukum tata negara yang mengabaikan kenyataan lapangan hanya akan menjadi pengetahuan yang jauh dari kehidupan dan tidak berguna,” kata Bamsoet.

Pengalaman Empat Periode di Parlemen

Bamsoet juga mengaitkan isi bukunya dengan pengalaman panjang di parlemen. Ia telah menjalani empat periode sebagai anggota DPR RI.

Menurut Bamsoet, perbedaan pandangan merupakan bagian penting dari proses demokrasi. Karena itu, masyarakat tidak semestinya melihat perdebatan dalam pembentukan undang-undang sebagai hambatan.

Sebaliknya, para pemangku kepentingan perlu mengelola perbedaan melalui argumentasi, mekanisme konstitusional, dan kepentingan publik.

“Di balik setiap undang-undang terdapat proses politik, tarik-menarik kepentingan, tuntutan masyarakat, perkembangan ekonomi dan teknologi, serta kebutuhan negara untuk menemukan titik keseimbangan,” ujar Bamsoet.

Karena itu, ia ingin membawa pengalaman empiris di parlemen ke ruang akademik. Dengan cara tersebut, teori hukum dapat terus berhubungan dengan persoalan nyata yang masyarakat hadapi.

Dari Senayan ke Ruang Kuliah

Sementara itu, buku Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran karya J. Osdar melihat perjalanan Bamsoet dari perspektif berbeda.

J. Osdar merekam perjalanan Bamsoet sejak menjadi jurnalis, pengusaha, aktivis organisasi, politisi, pimpinan lembaga negara, hingga pendidik. Buku tersebut kemudian menghubungkan pengalaman Bamsoet di berbagai bidang dengan kiprahnya dalam pendidikan.

Bamsoet turut mendirikan Universitas Perwira Purbalingga (Unperba). Selain itu, ia mengajar di sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan, Universitas Terbuka, dan Universitas Jayabaya.

“Memasuki dunia pendidikan dapat sejalan dengan pengabdian di dunia politik. Pengalaman yang diperoleh dari parlemen, organisasi, dunia usaha, dan kehidupan berbangsa dapat menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa,” jelas Bamsoet.

Menurutnya, pengalaman praktis dapat memperkaya proses pembelajaran di kampus. Sebaliknya, dunia politik juga membutuhkan masukan akademik agar kebijakan memiliki landasan teori dan konstitusi yang kuat.

Bamsoet Terus Kembangkan Karya Literasi

Peluncuran dua buku tersebut sekaligus menambah panjang daftar karya Bamsoet. Ia menerbitkan buku pertamanya, Rahasia Sukses dan Biografi Pengusaha Indonesia, pada 1988.

Pada periode berikutnya, Bamsoet banyak menulis tentang kepemudaan, organisasi, dunia usaha, politik, hukum, dan demokrasi. Tema tersebut kemudian berkembang seiring perjalanan kariernya di parlemen.

Ketika memimpin DPR dan MPR, ia lebih banyak mengangkat persoalan kelembagaan negara, demokrasi, ideologi, konstitusi, serta haluan negara.

Beberapa karya pada periode tersebut antara lain DPR Adem di Bawah Bamsoet, Jurus 4 Pilar, Negara Butuh Haluan, Indonesia Era Disrupsi, dan Vaksinasi Ideologi.

Bamsoet kemudian menerbitkan karya mengenai konstitusi, termasuk PPHN Tanpa Amendemen, Haluan Negara Menuju Indonesia Emas, Konstitusi Butuh ‘Pintu Darurat’, dan Legacy MPR RI Periode 2019-2024.

Pada 2025, ia menerbitkan Amandemen ke-5 Konstitusi: Menata Ulang Sistem Ketatanegaraan serta Evaluasi Kritis Pemilihan Umum Langsung. Sebelum dua buku terbaru tersebut, Bamsoet juga melakukan soft launching buku ke-37 berjudul 1001 Gagasan untuk Golkar: Panduan Eksekusi Strategi Politik, Organisasi, dan Pengabdian.

Politik dan Akademik Saling Melengkapi

Bamsoet menilai pengalaman politik dan pendidikan dapat saling memperkuat. Parlemen memberikan pengalaman empiris tentang proses pengambilan keputusan negara.

Sementara itu, kampus menyediakan ruang untuk menguji pengalaman tersebut melalui teori, riset, dan pemikiran kritis.

Karena itu, ia berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori hukum dan ketatanegaraan. Mereka juga perlu memahami bagaimana hukum bekerja ketika berhadapan dengan kepentingan politik, ekonomi, teknologi, dan perubahan global.

“Karena itu, pengalaman praktis perlu dihadirkan ke dalam ruang akademik. Sebaliknya, dunia politik juga membutuhkan masukan akademik agar setiap kebijakan memiliki pijakan teoritis, konstitusional, dan argumentasi yang kuat,” ujar Bamsoet.

Dengan peluncuran dua buku tersebut, Bamsoet kembali menempatkan pengalaman politik dan perspektif akademik dalam satu ruang pembahasan. Ia berharap gagasan dan pengalaman tersebut dapat menjadi bahan diskusi bagi generasi berikutnya. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *