Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

352 Siswa Diduga Keracunan MBG, DPR Soroti Pengawasan Dapur SPPG

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | RAYACOM

Sebanyak 352 siswa dari sejumlah sekolah di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (11/9/2026).

Para siswa mengalami sejumlah keluhan kesehatan, seperti pusing dan muntah. Mereka kemudian mendapat penanganan di sejumlah puskesmas. Sebagian besar siswa dilaporkan telah membaik dan diperbolehkan pulang.

Kasus tersebut mendapat sorotan dari Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi NasDem Irma Chaniago. Ia mengaku heran karena kasus dugaan keracunan kembali terjadi saat pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) tengah memperketat pengawasan program MBG.

DPR Soroti Pengawasan Dapur MBG

Irma menilai kasus tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap sistem pengawasan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia juga menyoroti langkah BGN yang sebelumnya menutup sementara sejumlah SPPG karena persoalan standar higiene dan sanitasi.

“Kok terjadi lagi ya, padahal sudah cukup banyak yang di-suspend. SDM dari BGN yang ada di SPPG tersebut harus diganti karena tidak bertanggung jawab. Harusnya makanan yang bermasalah tidak bisa keluar dari dapur jika mereka bekerja dengan baik,” kata Irma di Jakarta, Minggu (13/9/2026).

Menurut Irma, pengawasan kualitas makanan harus berjalan sejak proses pengolahan hingga makanan sampai kepada penerima manfaat.

Karena itu, ia meminta BGN mengevaluasi kinerja petugas yang bertanggung jawab mengawasi dapur penyedia MBG. Evaluasi juga perlu mencakup prosedur pemeriksaan makanan sebelum distribusi.

352 Siswa Dapat Penanganan Medis

Ketua Satgas Pengawasan MBG Lombok Tengah Lalu Firman Wijaya mengatakan tim langsung bergerak setelah menerima laporan mengenai kondisi para siswa.

Petugas kemudian memantau penanganan korban di sejumlah fasilitas kesehatan. Sebagian siswa yang sempat mendapat perawatan sudah diperbolehkan pulang.

“Tim sudah menuju ke lokasi SPPG dan Puskesmas. Sebagian dari siswa korban keracunan MBG ini sudah membaik dan diperbolehkan pulang,” ungkap Firman.

Data yang dihimpun dari sejumlah laporan menunjukkan para siswa mendapat penanganan di beberapa puskesmas. Keluhan yang muncul antara lain mual, muntah, pusing, dan sakit perut.

Sementara itu, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih dalam proses pemeriksaan. Petugas juga masih melakukan penelusuran untuk memastikan kaitan antara makanan MBG dan keluhan yang dialami para siswa.

SPPG Terancam Suspend

Ketua Satgas Program MBG NTB Fathul Gani mengatakan SPPG yang terkait dengan kejadian tersebut akan mendapat tindakan sesuai hasil penanganan dan evaluasi.

“Ya kalau melihat situasi, otomatis suspend,” tegas Fathul Gani.

Sebelumnya, Fathul juga melakukan pengecekan ke dapur SPPG Batukliang Mekar Bersatu. SPPG tersebut dilaporkan melayani sekitar 1.900 penerima manfaat pada hari kejadian, sementara 352 siswa dari lima sekolah mengalami keluhan kesehatan dan mendapat penanganan medis.

Kasus ini kembali menempatkan keamanan pangan sebagai perhatian penting dalam pelaksanaan MBG.

Program tersebut tidak hanya membutuhkan kemampuan memenuhi jumlah penerima manfaat. Pemerintah juga perlu memastikan setiap makanan memenuhi standar keamanan sebelum sampai kepada anak-anak.

Karena itu, evaluasi terhadap dapur SPPG, petugas pengawasan, prosedur pengolahan, serta pemeriksaan makanan menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.(hmi)

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *