Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Mahasiswa Diingatkan Tak Asal Ikut Tren Investasi, Ini Pesan Annisa Mahesa

Bagikan: Facebook X WhatsApp

 SERANG | RAYACOM

Anggota Komisi XI DPR RI Annisa Mahesa mengingatkan mahasiswa agar tidak asal mengikuti tren investasi. Ia meminta generasi muda memahami kondisi keuangan dan risiko sebelum membeli produk investasi.

Menurut Annisa, kemudahan akses informasi dan produk keuangan melalui platform digital membawa peluang sekaligus risiko. Karena itu, mahasiswa perlu memilah informasi sebelum mengambil keputusan finansial.

Annisa menyampaikan pesan tersebut saat memberikan edukasi keuangan melalui program Lite-It! (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) di Auditorium UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Selasa (8/9/2026). Kegiatan itu turut menghadirkan Gubernur Banten Andra Soni dan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono.

Annisa Soroti FOMO dalam Investasi

Annisa menilai Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu tantangan bagi investor muda. Menurutnya, konten viral dan rekomendasi media sosial tidak boleh menjadi dasar utama keputusan investasi.

Ia meminta mahasiswa berhenti sejenak sebelum mengikuti investasi yang sedang ramai. Calon investor perlu memastikan produk tersebut sesuai dengan tujuan dan kemampuan finansial.

“Jangan sampai kita kenal produknya dulu, tetapi belum kenal diri sendiri. Sebelum membeli, kita harus tahu uang ini untuk apa, kapan akan digunakan, dan seberapa besar risiko yang sanggup kita terima,” ujar Annisa.

Selain itu, Annisa meminta generasi muda membangun fondasi keuangan yang sehat. Fondasi tersebut mencakup dana darurat, pengelolaan utang konsumtif, tujuan keuangan, kemampuan finansial, dan toleransi risiko.

Terapkan Prinsip 2L Sebelum Investasi

Annisa juga mengajak mahasiswa menerapkan prinsip 2L, yakni legal dan logis sebelum memilih produk investasi.

Pertama, calon investor harus memastikan produk dan pihak yang menawarkan investasi memiliki izin. Selanjutnya, investor perlu menilai kewajaran imbal hasil berdasarkan tingkat risikonya.

Dengan demikian, investor tidak mudah tergiur tawaran keuntungan besar. Mereka juga dapat menghindari produk atau pihak yang menawarkan investasi secara ilegal.

Annisa menyarankan calon investor memberi jeda setidaknya 24 jam setelah menemukan rekomendasi investasi yang sedang viral. Jeda tersebut memberi waktu untuk mengecek informasi dan menimbang risiko.

Ia juga mengajak mahasiswa menjawab tiga pertanyaan sebelum berinvestasi. Pertama, apa risiko produk tersebut? Kedua, siapa yang mendapat keuntungan jika seseorang ikut berinvestasi? Ketiga, apakah pemberi rekomendasi memiliki kewenangan atau izin sebagai penasihat investasi?

“Kalau semua orang membeli sesuatu, itu bukan berarti kita juga harus membeli. Kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: saya membeli karena memang paham produknya atau karena takut ketinggalan?” katanya.

Waspadai Herding di Komunitas Digital

Selain FOMO, Annisa mengingatkan mahasiswa terhadap perilaku herding. Perilaku tersebut muncul ketika seseorang mengikuti keputusan mayoritas tanpa melakukan analisis secara mandiri.

Karena itu, ia meminta mahasiswa tidak menjadikan grup Telegram, WhatsApp, atau komunitas digital sebagai satu-satunya sumber analisis.

Menurut Annisa, investor perlu membandingkan informasi dari berbagai sumber. Mereka juga harus menggunakan kanal resmi untuk memeriksa legalitas produk dan memperoleh informasi mengenai sektor jasa keuangan.

Annisa juga menilai generasi muda perlu memahami berbagai bias perilaku. Selain FOMO dan herding, mereka perlu mengenali overconfidence dan loss aversion.

“Anak muda sekarang punya akses informasi yang luar biasa besar. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana memilah informasi dan mengambil keputusan dengan kepala dingin,” tutur Annisa.

Annisa Dorong Literasi Keuangan Berkelanjutan

Lebih lanjut, Annisa mendorong kampus dan pemangku kepentingan terus memperkuat edukasi keuangan bagi mahasiswa. Ia menyarankan pendekatan yang dekat dengan karakter Gen Z, seperti micro-learning, kompetisi, dan program sertifikasi.

Kegiatan LIKE IT sendiri menghadirkan edukasi keuangan bagi mahasiswa UIN Banten. UIN Banten mencatat lebih dari seribu mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut secara langsung.

OJK juga mendorong generasi muda memahami pengelolaan uang, investasi, layanan keuangan digital, serta risiko sebelum mengambil keputusan finansial.

Melalui edukasi tersebut, Annisa berharap mahasiswa tidak sekadar mengenal berbagai instrumen investasi. Ia ingin generasi muda membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini.

Menurutnya, investor cerdas bukan orang yang paling cepat mengikuti tren. Sebaliknya, investor cerdas memahami tujuan, karakter produk, dan risiko sebelum mengeluarkan uang.

“Investasi itu bukan perlombaan siapa yang paling cepat ikut tren. Yang penting kita tahu apa yang kita lakukan dan siap dengan risikonya. Jangan sampai karena takut ketinggalan, justru kita kehilangan uang yang sudah susah payah kita kumpulkan,” tutup Annisa. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *