JAKARTA | rayacom.id
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Perpustakaan Danantara di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memperkuat fungsi museum sebagai ruang pembelajaran, riset, dan literasi kebudayaan.
Perpustakaan Danantara merupakan hasil kemitraan Danantara Indonesia Trust dan Kementerian Kebudayaan melalui Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya.
Kolaborasi tersebut bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan koleksi perpustakaan Museum Nasional Indonesia. Fasilitas ini juga diarahkan untuk memperkuat budaya membaca dan pemanfaatan sumber pengetahuan sejarah serta kebudayaan Nusantara.
Museum dan Perpustakaan Jadi Satu Ekosistem
Fadli Zon mengatakan museum dan perpustakaan memiliki fungsi yang saling melengkapi. Keduanya dapat menghubungkan koleksi, dokumentasi, riset, pendidikan, dan akses publik.
Menurutnya, Museum Nasional Indonesia memiliki sekitar 30.000 buku yang dapat dimanfaatkan masyarakat melalui dukungan Perpustakaan Danantara.
“Museum dan perpustakaan tumbuh sebagai satu ekosistem yang menghubungkan koleksi, dokumentasi, riset, pendidikan, dan akses publik. Buku-buku yang ada, 30.000 buku, tanpa kolaborasi ini, mungkin tidak bisa di-display atau dimanfaatkan dengan baik,” ungkap Fadli.
Ia menilai kolaborasi tersebut dapat memperkuat peran museum sebagai pusat pengetahuan dan pembelajaran budaya.
Koleksi Lama Dibuka untuk Publik
Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan perpustakaan tersebut menyimpan beragam koleksi. Di antaranya buku umum, literatur budaya daerah, buku internasional, buku referensi, serta terbitan Museum Nasional Indonesia.
Koleksi perpustakaan juga mencakup hikayat dan literatur lama. Beberapa koleksi unggulan berasal dari arsip dan terbitan Batavia Genootschap.
Selain itu, terdapat koleksi sastra lama seperti Serat Centhini serta berbagai terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang memuat kajian sejarah, budaya, dan benda koleksi.
“Sementara ini beberapa koleksi unggulan adalah koleksi arsip dan terbitan Batavia Genootschap, koleksi sastra lama termasuk Serat Centhini, dan terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang berisi kajian sejarah, budaya, dan benda koleksi,” kata Indira.
Perpustakaan tersebut juga memiliki buku tertua terbitan 1859, Netherlands Oost-Indië, serta buku perjalanan karya Dr. S.A. Buddingh.
Dilengkapi Sistem Digital
Perpustakaan Danantara menggunakan Senayan Library Management System (SLiMS) dan fasilitas Online Public Access Catalog (OPAC). Sistem tersebut mendukung pengelolaan koleksi dan pencarian informasi bagi pengunjung.
Untuk menjaga kelestarian koleksi, pengelola membatasi kunjungan maksimal 20 orang per jam.
Pengunjung juga harus melakukan registrasi secara daring untuk memilih jadwal dan mengetahui ketersediaan sesi.
Selain ruang baca, fasilitas yang tersedia mencakup ruang layanan informasi, ruang rapat, dan loker penitipan barang.
Diharapkan Dorong Ekonomi Budaya
Fadli berharap Perpustakaan Danantara dapat berkembang bersama Museum Nasional Indonesia sebagai satu ekosistem pengetahuan.
“Perpustakaan Danantara ini diharapkan dapat semakin memperkuat peran Museum Nasional Indonesia sebagai ruang pengetahuan dan pembelajaran budaya,” ujar Fadli.
Menurutnya, penguatan museum dan perpustakaan juga dapat mendukung pengelolaan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya untuk kepentingan masyarakat.
Kolaborasi Kementerian Kebudayaan dan Danantara Indonesia Trust diharapkan membuat Museum Nasional Indonesia semakin terbuka dan produktif dalam menghasilkan pengetahuan.
Penguatan tersebut juga diarahkan untuk mendukung ekonomi budaya berkelanjutan dan perkembangan industri kreatif nasional. (hmi)