Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Bamsoet Dorong Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Tiongkok Beri Manfaat Bersama

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | RAYACOM

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia dengan Provinsi Jiangxi, Tiongkok.

Menurut Bamsoet, hubungan Indonesia-Jiangxi yang memasuki usia 10 tahun perlu berkembang lebih jauh. Kerja sama ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan perdagangan dan jejaring bisnis.

Ia mendorong kedua pihak memperkuat business matching, investasi, industrial cooperation, rantai pasok, serta penciptaan nilai tambah.

Bamsoet menyampaikan pandangan tersebut dalam acara 10th Anniversary and International Business Gala Dinner Perhimpunan Pengusaha Jiangxi Indonesia di Jakarta, Sabtu malam (12/9/2026).

Bamsoet Soroti Defisit Perdagangan Indonesia-Tiongkok

Bamsoet menilai hubungan dagang Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi besar. Namun, pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor Indonesia ke Tiongkok pada 2025 mencapai sekitar US$67,04 miliar. Sementara itu, impor dari Tiongkok mencapai US$87,54 miliar.

Dengan angka tersebut, Indonesia mencatat defisit perdagangan sekitar US$20,50 miliar dengan Tiongkok.

“Besarnya impor dari Tiongkok menunjukkan kuatnya hubungan ekonomi sekaligus mengingatkan kita bahwa kerja sama harus semakin berkualitas. Kita ingin barang dari Jiangxi masuk ke Indonesia sebagai bagian dari proses produksi, sementara produk Indonesia juga semakin banyak menembus pasar Tiongkok,” ujar Bamsoet.

Karena itu, ia mendorong perubahan orientasi kerja sama dari perdagangan menjadi produksi bersama.

“Orientasinya harus bergeser dari China sells to Indonesia menjadi China and Indonesia produce together in Indonesia. Indonesia harus diposisikan sebagai production base, bukan sekadar market,” lanjutnya.

Dorong Investasi dan Industrialisasi

Hubungan Indonesia-Tiongkok kini mencakup berbagai sektor. Bidangnya meliputi investasi, infrastruktur, industri, energi, teknologi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, pariwisata, pertanian, ekonomi hijau, kendaraan listrik, mineral strategis, hingga kawasan industri.

Dalam kerja sama dengan Jiangxi, Bamsoet melihat peluang pada pembangunan jalan, pelabuhan, energi, kawasan industri, perumahan, transportasi, dan infrastruktur digital.

Jiangxi sendiri memiliki basis industri serta pengalaman dalam konstruksi, manufaktur, engineering, material, dan peralatan industri.

“Kita memiliki complementary economies, complementary resources, complementary markets dan complementary strengths. Indonesia membutuhkan modal, teknologi, mesin, engineering dan pengembangan industri, sementara Jiangxi memiliki kapasitas yang relevan,” kata Bamsoet.

Menurut dia, kedua pihak dapat mengembangkan pabrik, joint venture, local sourcing, riset dan pengembangan, serta ekspor produk ke pasar ASEAN.

Dengan pola tersebut, investasi tidak hanya meningkatkan arus modal. Kerja sama juga dapat memperkuat industri nasional dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Mineral Strategis dan Kendaraan Listrik Jadi Peluang

Bamsoet juga melihat mineral strategis dan kendaraan listrik sebagai sektor yang memiliki peluang besar.

Indonesia memiliki sumber daya nikel dan mineral strategis. Selain itu, Indonesia terus mengembangkan ekosistem baterai dan kendaraan listrik.

Di sisi lain, Jiangxi memiliki basis manufaktur dan teknologi yang dapat mendukung pengembangan industri tersebut.

Bamsoet mendorong kerja sama dari sektor hulu hingga hilir. Prosesnya mencakup pengolahan sumber daya, manufaktur, penguasaan teknologi, hingga ekspor.

Dengan demikian, Indonesia dapat memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari investasi yang masuk.

Selain itu, Bamsoet menekankan pentingnya prinsip ekonomi hijau. Investasi masa depan perlu memperhatikan energi terbarukan, efisiensi energi, pengurangan emisi, pengelolaan limbah, dan ekonomi sirkular.

Investasi Harus Ciptakan Nilai Tambah

Bamsoet menegaskan Indonesia terbuka terhadap investasi dari Jiangxi. Namun, ia meminta investasi yang masuk memberikan manfaat langsung bagi perekonomian nasional.

“Indonesia terbuka terhadap investasi Jiangxi, tetapi investasi yang kita perlukan adalah investasi yang lebih berkualitas. Kita membutuhkan investasi yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, melakukan transfer teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, menggunakan pemasok lokal, memperkuat industri nasional dan menjaga lingkungan,” ujarnya.

Menurut Bamsoet, prinsip kerja sama harus mengutamakan mutual benefit, kepastian hukum, penciptaan nilai lokal, pembangunan berkelanjutan, dan kesejahteraan bersama.

“Kita ingin investasi yang manfaatnya dirasakan bersama dalam jangka panjang,” pungkas Bamsoet. (hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *