Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Rupiah Tertekan Konflik AS-Iran, Harga Minyak dan Subsidi Energi Jadi Sorotan

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | RAYACOM

Rupiah tertekan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan kenaikan harga minyak dunia.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah berada di level Rp17.614 per dolar AS. Nilai tersebut melemah 3 poin atau sekitar 0,02 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor yang menekan Rupiah. Menurut dia, eskalasi konflik dapat mengganggu distribusi energi, terutama minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Rupiah Tertekan Risiko Gangguan Energi

Ibrahim menilai risiko gangguan pasokan tidak hanya berasal dari Selat Hormuz. Jalur strategis lain seperti Bab el-Mandeb juga perlu mendapat perhatian.

Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur pengiriman minyak dunia.

“Kondisi ini mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Karena itu, perkembangan konflik AS-Iran menjadi perhatian pasar keuangan. Investor juga mencermati dampaknya terhadap harga komoditas dan nilai tukar.

Harga Minyak Tembus US$100 per Barel

Ketegangan geopolitik turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 2,89 persen menjadi US$107,63 per barel pada pukul 08.45 WIB.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,70 persen menjadi US$102,75 per barel.

Kenaikan tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia. Sebagai negara yang masih menjadi net importir minyak, Indonesia menghadapi risiko tekanan ekonomi dan fiskal ketika harga minyak dunia melonjak.

Ibrahim menilai dampak besar dapat muncul dari sisi APBN. Pemerintah berpotensi menghadapi kenaikan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi.

“Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat,” tuturnya.

Subsidi BBM dan LPG Berpotensi Naik

Ibrahim menjelaskan harga minyak dunia yang berada di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN dapat meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi.

Tekanan tersebut dapat memengaruhi berbagai komoditas energi yang digunakan masyarakat. BBM seperti Pertalite dan Solar serta LPG 3 kilogram menjadi bagian yang ikut mendapat perhatian.

Pemerintah menghadapi pilihan yang tidak mudah. Kenaikan harga BBM dapat menekan daya beli masyarakat dan mendorong kenaikan harga barang serta jasa.

Sebaliknya, pemerintah harus menanggung selisih harga apabila harga BBM tetap bertahan di tingkat konsumen. Kondisi itu dapat meningkatkan beban fiskal negara.

“Apabila pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran,” ujarnya.

Dengan demikian, konflik Timur Tengah tidak hanya memengaruhi harga minyak. Gejolak tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN dan nilai tukar Rupiah.

Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif

Ibrahim memperkirakan Rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam perdagangan hari ini.

Ia memproyeksikan Rupiah berada pada kisaran Rp17.610 hingga Rp17.650 per dolar AS.

Untuk perdagangan sepekan, Ibrahim memperkirakan Rupiah bergerak dalam rentang Rp17.500 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Jika konflik geopolitik terus meningkat dan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, pemerintah menghadapi tantangan ganda.

Pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan kenaikan subsidi dan kompensasi energi. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting dalam menjaga kesehatan APBN.(fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *