Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Budiman Sudjatmiko: Saya Sosialis, tetapi Tak Masalah dengan Kapitalisme

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | rayacom.id

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko mengaku tidak menentang kapitalisme meski dirinya seorang sosialis.

Aktivis 1998 tersebut melihat sejumlah nilai positif dalam kapitalisme. Menurutnya, sistem ini dapat mendorong inovasi, kreativitas, dan kewirausahaan (entrepreneurship).

“Kapitalisme memungkinkan adanya entrepreneurship, ada insentif model, model imbalan yang proporsional,” ujar Budiman melalui akun Instagram pribadinya, @masbud_sudjatmiko, Rabu (14/10/2026).

Budiman Dukung Persaingan Sehat

Budiman menegaskan bahwa kapitalisme tidak menjadi masalah baginya selama sistem tersebut mendorong persaingan yang sehat. Ia juga menilai kompetisi dapat memacu kreativitas dan inovasi.

“Saya enggak masalah dengan kapitalisme. Kapitalisme bisa mendorong kreativitas, inovasi, kewirausahaan, kompetisi yang sehat. Oke, saya enggak masalah. Saya orang sosialis, tapi saya enggak bermasalah dengan kapitalisme,” jelas mantan Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) tersebut.

Meski menerima nilai positif kapitalisme, Budiman tetap menolak imperialisme. Ia menilai imperialisme menciptakan dominasi dan membatasi kemandirian pihak yang lebih lemah.

“Imperialisme itu adalah membuat kamu tetap ada di bawah telapak kakiku. Kamu tidak boleh berdiri lebih tinggi dari aku. Kamu tidak boleh berdiri tegak, kepalamu di atas lututku. Kamu harus tetap di bawah lututku. Itu imperialisme,” tegasnya.

Kapitalisme dan Imperialisme Berbeda

Sebaliknya, Budiman menggambarkan kapitalisme sebagai sistem yang memberi ruang bagi setiap pihak untuk bersaing dan meningkatkan kemampuan.

“Kalau kapitalisme, ‘Ayo, kalau kamu bisa melompat lebih tinggi, enggak apa-apa. Nanti gua juga mau berlatih lagi untuk melompat lebih tinggi dari kamu,’” tuturnya.

Melalui perumpamaan tersebut, Budiman menjelaskan perbedaan pandangannya terhadap kedua sistem itu. Ia melihat persaingan sebagai peluang untuk berkembang, sedangkan imperialisme menggambarkan dominasi yang menghambat pihak lain.

Budiman Jelaskan Pilihan pada Sosialisme

Budiman memilih sosialisme karena menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai perhatian utama. Ia ingin kelompok yang menghadapi kesulitan memperoleh dukungan agar dapat memperbaiki taraf hidup.

“Kesejahteraan. Karena ada orang-orang yang memang agak susah melompat nih, yang harus kita ajak nih. Nah, itu pilihan saya menjadi sosialis. Tapi saya tidak masalah dengan kapitalisme. Saya permasalahkan imperialisme,” pungkasnya.

Pada akhirnya, Budiman menekankan pentingnya kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat. Ia menerima kapitalisme selama sistem tersebut membuka ruang persaingan sehat, tetapi tetap menentang imperialisme.

(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *