Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

PWI dan Lemhannas Teken MoU untuk Perkuat Ketahanan Nasional

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | rayacom.id

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI memperkuat kerja sama untuk menjaga ketahanan nasional. Kedua lembaga menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) di Kantor Lemhannas RI, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Ketua Umum PWI Akhmad Munir menandatangani MoU bersama Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily. Kerja sama ini mencakup pengembangan sumber daya manusia, pendidikan kepemimpinan, serta pelatihan Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan.

Selain itu, kedua lembaga akan melakukan pertukaran informasi dan narasumber. Mereka juga merencanakan kegiatan ilmiah serta program lain sesuai kebutuhan bersama.

Wakil Sekretaris Jenderal PWI Kadirah dan Haryo Ristamaji turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ketua Bidang Pembelaan dan Pembinaan Hukum PWI, Anrico Pasaribu, juga mendampingi penandatanganan MoU.

PWI Lanjutkan Kerja Sama dengan Lemhannas

Akhmad Munir menyambut baik pembaruan kerja sama antara PWI dan Lemhannas. Menurut dia, kedua lembaga telah lama berkolaborasi dalam program pendidikan dan penguatan wawasan kebangsaan.

“Kami menyambut baik MoU antara PWI dengan Lemhannas. Kerja sama ini adalah pembaruan karena sebelumnya antara PWI dengan Lemhannas sudah terjalin kerja sama yang cukup lama,” kata Akhmad Munir seusai penandatanganan.

Ia menjelaskan, anggota PWI di tingkat pusat maupun daerah telah mengikuti berbagai program Lemhannas. Program tersebut mencakup pendidikan wawasan kebangsaan dan wawasan nusantara dengan durasi tiga hingga enam bulan.

Karena itu, PWI berkomitmen melanjutkan kolaborasi tersebut. Akhmad menilai tantangan teknologi informasi dan dinamika geopolitik menuntut masyarakat memperkuat pemahaman mengenai ketahanan nasional.

“Kami tentu akan terus melakukan kolaborasi ini karena kami sadar betul bahwa tantangan terhadap ketahanan negara itu harus terus dijaga,” ujarnya.

Wartawan Berperan Menjaga Nilai Kebangsaan

Akhmad menilai wartawan memiliki peran strategis dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Pasalnya, pers memproduksi dan menyebarkan informasi yang memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap berbagai persoalan.

Oleh sebab itu, ia mendorong komunitas pers untuk terus memperkuat pemahaman kebangsaan dan menyebarkannya kepada masyarakat melalui karya jurnalistik.

“Khususnya oleh wartawan, komunitas pers agar penguatan terhadap nilai-nilai kebangsaannya harus terus dikuatkan, bahkan harus terus ditularkan kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga mengingatkan wartawan agar tetap menjalankan tugas jurnalistik dengan memperhatikan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan keberagaman bangsa.

“Kita bekerja dalam koridor jurnalisme, di mana memproduksi dan mendistribusi berita. Sehingga berita-berita yang kita produksi, berita-berita yang kita siarkan itu tetap menjaga NKRI, nilai-nilai kebangsaan, dan merawat kebinekaan, keragaman bangsa Indonesia ini agar betul-betul menjadi bangsa yang tahan dan kuat,” tuturnya.

Lemhannas Soroti Ancaman Perang Kognitif

Sementara itu, Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer. Menurut dia, ketahanan nasional juga mencakup aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan demografi.

“Kita menyampaikan ketahanan nasional bukan hanya ditentukan kekuatan militer, tetapi juga oleh komponen yang lain. Ketahanan ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya, demografi kita,” ujar Ace.

Ia menekankan bahwa seluruh komponen bangsa perlu berperan dalam membangun ketahanan nasional. Karena itu, kerja sama dengan PWI menjadi salah satu upaya memperluas pemahaman kebangsaan di lingkungan pers.

Selain ancaman militer, Ace mengingatkan masyarakat terhadap perang kognitif yang dapat memengaruhi pola pikir dan persepsi publik. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta penggunaan algoritma dalam penyebaran informasi turut menambah tantangan tersebut.

Menurut Ace, masyarakat perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar.

“Kita harus menyadari itu dan bisa jadi kita menjadi kekuatan yang dipakai,” tuturnya.

Melalui MoU ini, PWI dan Lemhannas berharap dapat meningkatkan kapasitas wartawan dalam memahami nilai-nilai kebangsaan. Kedua lembaga juga ingin memperkuat kontribusi pers dalam menjaga persatuan dan ketahanan nasional di tengah perkembangan teknologi informasi. (Hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *