Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan ePaper & Update Berita

Berlangganan ePaper & Update Berita

Nikmati ePaper Tangerang Raya dan dapatkan update berita terbaru setiap hari.

Klik tombol untuk berlangganan ePaper dan mengikuti update berita Tangerang Raya.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

IGIC 2026 Pilih Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI dan Hasilkan Jakarta Understanding

Bagikan: Facebook X WhatsApp

JAKARTA | rayacom.id

International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 menyepakati pembentukan The International Assembly of Mosque Imams (IAMI). Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, dipercaya menjadi presiden pertama organisasi tersebut.

Selain membentuk IAMI, IGIC 2026 menghasilkan kesepakatan bersama bertajuk Jakarta Understanding. Kesepakatan itu menempatkan imam masjid sebagai salah satu aktor dalam diplomasi keagamaan, perdamaian, dan agenda kemanusiaan global.

IGIC 2026 berlangsung pada 25–27 September 2026 di Jakarta. Forum tersebut mempertemukan imam besar, mufti, dan delegasi dari berbagai negara serta kawasan.

IPIM Banten Sambut Pembentukan IAMI

Ketua Umum PW Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Provinsi Banten, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menyambut pembentukan IAMI dan terpilihnya Nasaruddin Umar sebagai presiden pertama.

Menurut Tholabi, IAMI dapat memperkuat peran imam masjid dalam merespons persoalan keumatan dan kemanusiaan di tingkat global.

“Terbentuknya IAMI menunjukkan bahwa imam masjid memiliki posisi strategis dalam membangun jembatan kemanusiaan, memperkuat perdamaian, dan menghadirkan masjid sebagai pusat peradaban. Jakarta Understanding memberikan fondasi penting bagi penguatan diplomasi keagamaan yang berangkat dari nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, keadilan, dan keberlanjutan,” ujar Tholabi.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menilai kepemimpinan Nasaruddin Umar juga dapat membuka ruang bagi penguatan jejaring imam masjid Indonesia di tingkat internasional.

Menurut dia, pengalaman Indonesia dalam mengembangkan kehidupan masjid yang inklusif dan dekat dengan kebutuhan masyarakat dapat menjadi salah satu kontribusi dalam agenda IAMI.

“Bagi Indonesia, IAMI merupakan kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman dan praktik baik pengelolaan masjid yang berorientasi pada pemberdayaan umat. Masjid perlu hadir sebagai ruang pendidikan, penguatan keluarga, solidaritas sosial, kepedulian lingkungan, serta dialog kemanusiaan,” katanya.

Peran Imam Masjid hingga Tingkat Daerah

Tholabi juga menilai imam masjid di daerah perlu ikut menerjemahkan agenda IAMI ke dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, jejaring imam masjid di Indonesia memiliki modal sosial untuk mendukung agenda perdamaian, moderasi beragama, pemberdayaan masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Dari Banten, kami melihat bahwa agenda besar IAMI harus memiliki resonansi sampai ke tingkat akar rumput. Imam masjid bukan hanya pemimpin ritual keagamaan, melainkan juga bagian penting dari ekosistem sosial yang dapat memperkuat ketahanan masyarakat dan membangun kehidupan yang harmonis,” ujarnya.

Nasaruddin Umar Minta Dukungan Imam Besar Dunia

Para imam besar, mufti, dan delegasi negara peserta IGIC 2026 menyambut terpilihnya Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI.

Nasaruddin mengatakan dirinya membutuhkan dukungan para imam besar dunia untuk menjalankan amanah tersebut. Ia juga menyatakan kesiapan mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya bagi kemaslahatan umat.

“Saya merasa tidak pantas untuk dipilih menjadi pimpinan imam besar; saya takut mengecewakan harapan dari sini. Karena itu, jika ini memang kehendak-Nya memilih saya sebagai pimpinan, saya harap agar dapat memahami kelemahan saya dan membantu saya mengatasi kelemahan itu,” ungkap Nasaruddin di Jakarta, Minggu (27/9/2026).

Nasaruddin kemudian menekankan pentingnya mengembalikan masjid sebagai ruang pemberdayaan masyarakat.

“Masjid itu kita harus mengubah. Selama ini umat yang memberdayakan masjid, tetapi kita harus membalik, masjidlah yang harus memberdayakan umat,” ujar Menag.

Menurut Nasaruddin, fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW tidak terbatas pada ibadah. Masjid juga menjadi ruang pendidikan, pemberdayaan, konsultasi, pertemuan, dan interaksi masyarakat.

IAMI Punya Lima Pilar Strategis

IAMI dibentuk setelah para imam, mufti, dan delegasi dari 46 negara menyampaikan berbagai masukan dalam IGIC 2026.

Organisasi tersebut menempatkan masjid sebagai pusat ibadah sekaligus ruang pendidikan, pembangunan masyarakat, solidaritas sosial, bimbingan moral, dan pembangunan perdamaian.

IAMI akan merespons sejumlah tantangan global. Di antaranya intoleransi, fragmentasi sosial, isu lingkungan, persoalan kepemudaan, kemiskinan, misinformasi, dan krisis kemanusiaan.

Organisasi ini memiliki lima pilar strategis. Pilar tersebut meliputi Keharmonisan Masjid, Kepemimpinan Imam, Diplomasi Keagamaan, Perdamaian Global dan Aksi Kemanusiaan, serta Masjid dan Komunitas yang Berkelanjutan.

Jakarta menjadi lokasi sekretariat permanen dan pusat administrasi IAMI. Organisasi itu juga merencanakan kantor wilayah di Kuala Lumpur, Kairo, Nairobi, London, New York, Rio de Janeiro, serta Canberra.

Presiden IAMI akan mewakili organisasi di tingkat internasional, memimpin Dewan Tertinggi, serta mengoordinasikan keterlibatan diplomatik dan keagamaan internasional. Masa jabatan presiden berlangsung selama tiga tahun dan dapat diperpanjang satu kali.

IAMI juga akan menggelar pertemuan virtual bulanan para imam besar dunia untuk membahas berbagai persoalan keumatan.

Nasaruddin berharap pada tahap berikutnya forum tersebut dapat melibatkan pemimpin rumah ibadah lain, seperti gereja, sinagoge, dan vihara, untuk membahas persoalan kemanusiaan dan lingkungan.

“Kita tidak akan berbicara politik praktis atau hal-hal yang mengganggu kenyamanan bersama, melainkan menyamakan wawasan bahwa kemanusiaan itu satu. Kita mencontoh Nabi Muhammad SAW yang semasa hidupnya mampu menjembatani semua perbedaan sehingga konflik hilang,” tuturnya.

Jakarta Understanding Soroti Perdamaian

Selain membentuk IAMI, IGIC 2026 menghasilkan Jakarta Understanding. Dokumen tersebut memuat tujuh komitmen bagi para imam masjid.

Pertama, para imam didorong menjalankan peran sebagai pemimpin ibadah sekaligus mediator konflik, pemersatu keberagaman, dan penuntun moral masyarakat.

Kedua, imam masjid didorong menjadi agen perdamaian yang melindungi martabat manusia serta memperkuat pendidikan karakter, moderasi, toleransi, dan literasi digital.

Ketiga, Jakarta Understanding mendorong imam memperjuangkan keadilan sosial dan perlindungan hak kelompok rentan, termasuk anak, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas.

Keempat, dokumen tersebut mendorong diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman untuk mencegah konflik serta menolak ekstremisme, kekerasan, penyalahgunaan agama, hoaks, dan ujaran kebencian.

Kelima, para imam didorong membangun kesadaran ekoteologis, menjaga keseimbangan alam, serta mendorong keberlanjutan lingkungan.

Keenam, Jakarta Understanding menyerukan kolaborasi global dengan lembaga internasional, pemerintah, dan masyarakat sipil untuk membangun dunia yang adil dan damai.

Ketujuh, dokumen tersebut menegaskan dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, perlindungan warga sipil, penegakan hukum internasional, serta upaya mewujudkan kemerdekaan, keadilan, perdamaian, dan martabat yang berkelanjutan bagi Palestina.

“Melalui Jakarta Understanding, para Imam Besar menyampaikan pesan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama umat manusia dan masjid bisa menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan,” ujar Nasaruddin.

“Jakarta Understanding juga menggarisbawahi bahwa diplomasi keagamaan dapat memperkuat diplomasi antarbangsa, serta menegaskan dukungan penuh terhadap hak rakyat Palestina,” sambungnya. (fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *